Tanpa Ekspektasi

Hidup seakan mengalir membawa takdir hingga ke muara.
Pergi melangkah tanpa tepi dan tak tahu arah. Entah kemana takdir membawa pulang.
Hingga pergi tanpa ekspresi pulang tanpa peduli.
Suara hati seakan bergejolak hebat mengaum perih yang tak tahu arah berganti.
Hingga ada yang disebut dengan luka dan ada yang disebut dengan benci.
Hingga diri tak dapat berekspresi dan senyum berganti tanpa tepi.
Ramah tamah pun seakan berganti dengan dinding remuk dan sembilu.
Lamunan kosong menjadi kegiatan sehari-hari. Hingga pada akhirnya waktu berkata tentang yang disebut dengan rasa.
Sempat mati tanpa jeda, sempat berdiri tanpa penyangga, sempat berjalan tanpa tahu arah, sempat tertusuk hingga tak berdarah.
Lewat nada tanpa kata, lewat cerita tanpa berjeda, lewat mata tanpa air mata, lewat puisi tanpa makna.
Dan akhirnya berjalan mendobrak rasa dan melangkah dengan logika.
Hingga akhirnya takdir membawa hingga sampai ke muara, diluar zona ekspresi dan tanpa ekspektasi.