Perjalanan singkat di negeri jiran part 2 : Melaka

Selamat malam. Suasana liburan masih terasa di minggu-minggu lebaran ini walaupun sudah mulai beraktivitas seperti biasa tetapi hawa dari liburannya masih melekat. Benar gak sih? Hehe. Btw setelah sekian lama gak posting lagi akhirnya berkesempatan untuk posting keabsurdan cerita di blog, melanjutkan cerita sebelumnya tentang perjalanan ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju ke Melaka.

Pernahkah anda mendengar tentang old town di Malaysia? Ya, Melaka adalah jawabannya. Destinasi favorit para backpacker dan solo traveler. Kota yang eksotis dengan bangunan bersejarah bergaya ala Eropa. Dilihat dari sejarahnya, Melaka adalah kota tua bekas jajahan dari 3 negara yaitu Portugis, Belanda, dan Inggris. Pada tanggal 7 Juli 2008 Malaka dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Pada abad ke 15 silam melaka menjadi salah satu tempat perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Kesan Melaka agak jauh berbeda dengan Kuala Lumpur yang terlihat begitu modern dan multietnis tetapi di Melaka lebih eksotis dengan bangunan tua bersejarahnya dan lebih banyak ras melayu.

Perjalanan menuju ke Melaka dari Kuala Lumpur dapat dilalui dengan jalur darat. Dari KL sentral naik MRT ke stasiun BTS (Bandar Tasik Selatan) lalu menuju ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Perjalanan berlangsung sangat cepat kurang dari 15 menit. Stasiun BTS dan Terminal TBS dihubungkan oleh jembatan dan hanya berjalan sedikit saja. Btw harga tiket ke stasiun BTS berkisar sekitar 5,2 RM. untuk cek info harga transportasi umum terkini silahkan klik disini.

Sesampainya di TBS dapat membeli tiket bis menuju ke Melaka di kaunter tiket. Saat pembelian tiket disertakan dengan passport untuk di cek kembali oleh petugas. Harga tiket bis dari TBS ke Malaka berkisar antara 11-14,5 RM. Terminalnya membuat saya kagum karena bersih, rapi dan classy. Sekilas tampak seperti bandara versi mini, ruang tunggu bis seperti ruang tunggu pesawat, dan jam keberangkatan bis juga on time.

Perjalanan dari TBS ke Melaka kurang lebih 2 jam tergantung tingkat kemacetan selama di perjalanan. Sesampainya di terminal bis melaka sentral kami melanjutkan perjalanan menuju ke Hang Tuah Center.

Destinasi pertama kami adalah Perkampungan Hang Tuah Lima Bersaudara. Menelusuri jejak sejarah pahlawan legenda berkebangsaan Melayu. Sumpah yang terkenal dari Hang Tuah yaitu “Tak Melayu Hilang di Dunia”, sejarah tentang hang tuah bisa dilihat disini. Di museum Hang Tuah ini sangat kental dengan budaya khas melayu seperti rumah adat, auditorium mini yang digunakan untuk teater, film, video, penampilan seminar budaya, dan lain-lain. Ada 5 rumah yang mewakili pahlawan malaysia yaitu Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekiu, dan Hang Lekir. Harga masuk tiket museum ini sekitar 10 RM untuk turis (dewasa), anak-anak (7-12 tahun) sekitar 4 RM. Berikut adalah jepretannya:

Setelah berkeliling museum Hang Tuah, kami melanjutkan perjalanan menuju ke spot wisatanya Melaka. Jalan-jalan sore (JJS) di sekitar spot malaka ini bisa dilalui dengan jalan kaki, bisa dengan menggunakan becak yang dihias boneka yang cukup heboh dan diiringi dengan musik yang cukup keras, berasa lagi naik odong-odong hahaha. Selain itu bisa menyewa sepeda untuk berkeliling kurang lebih sekitar 20 RM. Saran, lebih baik jalan kaki lebih seru untuk explore sekaligus olahraga hehe. Harga naik becak hias kurang lebih 25 RM satu pusingan (putaran) kecil, 40 RM satu pusingan besar. Tapi jika bisa berbicara logat Malaysia bisa ditawar dengan harga yang lebih murah.

Spot wisata Melaka ini ada beberapa tempat wisata seperti menara taming sari, maritime museum, A’famosa, jonker street, clock tower, st paul, dan lain-lain.

Menara taming sari ini seru banget. Untuk yang mau melihat pemandangan Melaka dari ketinggian 80 meter bisa mampir ke menara ini. Kaca transparannya membuat penumpang tidak berhenti berdecak kagum melihat pemandangan Selat Melaka, sungai, dan tatanan kota Melaka yang rapi. Kurang lebih di dalam menara 30 menit. Menara berputar 360 derajat. Harga tiket masuk menara taming sari untuk turis sekitar 23 RM (dewasa), 15 RM (anak-anak).

View this post on Instagram

Pemandangan sore hari di menara taming sari

A post shared by Riri Putri Yusniati (@ririyusniati) on

Setelah menara taming sari, kami berjalan-jalan mengelilingi tempat wisata lainnya yang instagramable dan gratis hehe. Ada benteng A’famosa yang merupakan benteng Portugis yang dibangun di Malaka pada tahun 1511, lalu diambil alih Belanda pada tahun 1641, lalu diambil alih oleh Inggris pada tahun 1795-1807. A’famosa artinya the famous.

Selanjutnya red square bangunan yang cukup menarik perhatian dengan warna merah di sekitarnya. Ada stadhyus, clock tower, christ church Melaka, dqn lainnya. Lalu ada museum arsitektur malaysia yang juga berwarna merah.

St.Paul church yang berada di Bukit St paul yang merupakan gereja bersejarah di melaka. Perjalanan menuju kesini cukup melelahkan dan bikin kaki gempor hehe. Disini setelah berjalan kaki harus menaiki tangga hingga ke atas. Atap dari gereja ini tidak ada. Bagian dalam nya terbuka dan ada batu nisan besar yang bersandar di dinding. Di belakang gereja terdapat kompleks pemakaman orang Belanda salah satunya adalah makam Jan Van Riebeck.

Setelah berkeliling spot wisata Melaka kami menuju ke Melaka river cruise, saat melewati perjalanan terdapat maritime museum yang berbentuk seperti kapal dan sangat indah. Sayangnya kami tak sempat masuk ke dalam museum hanya melihat dari luar saja.

Selanjutnya kami menuju ke Melaka river cruise di malam hari. Rasanya belum lengkap ke Melaka jika belum menikmati suasana di sepanjang aliran sungai Melaka. Menyusuri sungai dan menikmati indahnya suasana kota Melaka di malam hari yang eksotis 45 menit dengan jarak tempuh sekitar 9 km. Nuansa nya cukup seru dan romantis sekali hehe. Sepanjang perjalanan akan melihat bangunan, deretan rumah tua Belanda, China, dan melayu. Harga tiket naik kapal untuk turis sekitar 23 RM (dewasa), 18 RM (anak-anak).

Setelah menaiki boat kami berwisata kuliner di pasar malam melaka. Ya, disini banyak sekali berbagai macam makanan khas Malaysia, Thailand, China, dan Indonesia yang recommended untuk dicoba. Dari mulai nasi lemak, satay lembu, ayam, laksa penang, ayam penyet, bakso, mee soup, mee hoon, kuey teow, nasi kukus ayam berempah, nasi goreng pattaya, es kepal milo yang sedang hits, dan lain-lain.

Btw, malam sudah larut dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang, besoknya kami harus balik kembali ke Kuala Lumpur dan pulang ke Indonesia. Pagi harinya kami menaiki bis jam pertama ke arah Kuala Lumpur dari Melaka Sentral yaitu pada pukul setengah 6 pagi. Harga tiket sekitar 10-15 RM.

Saat di Melaka kami menginap di rumah keluarga teman saya yang berkebangsaan Malaysia yang tinggal di dekat hang tuah center. Pengalaman baru tinggal di homestay seru juga. Banyak hal seru dari mulai bahasa, makanan, dan cara cipika-cipiki yang 3 kali bolak-balik yang cukup bikin keder Hehe. Pengalaman lainnya saat saya menanyakan tas yg ketinggalan di mobil, tapi mereka menyebut tertinggal di kereta. Saya langsung panik sambil melihat-lihat dan berfikir memangnya ada stasiun di dekat sini dan bagaimana kalau hilang? mereka tertawa, oh ternyata saya salah paham arti kereta dan mobil dalam bahasa mereka 😀 . Kami juga sama-sama saling bertukar cerita tentang negara kami dan saling menertawai bahasa kami yang serumpun tapi sering berbeda arti. Seperti arti dia (malaysia) yang artinya kamu, comel yang artinya imut, arwah yang dalam bahasa malaysia artinya almarhum, sedangkan bahasa indonesia artinya hantu, dan lainnya. Alhamdulillah full of happiness ☺️.

Sekian dulu cerita perjalanan kali ini, overall seru banget travelling nya, dan banyak belajar juga tentang budaya negeri tetangga, menjelajahi wisata kulinernya, tempat-tempat seru, bertemu dengan banyak orang baru, dan menjadi lebih open minded.

Untuk kamu yang sedang menyusun itinerary ke Melaka semoga bermanfaat dan membantu.

Terima kasih sudah membaca dan Sampai berjumpa di perjalanan selanjutnya ☺️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *