Gadis Ojek Payung

Minggu sore hujan deras mengguyur kota Bekasi. Terlihat banyaknya orang yang berteduh. Dari kejauhan tampak anak-anak yang menawarkan payung sebagai tanda menjual jasanya sebagai ojek payung. Menawarkan kepada setiap orang yang hendak menyewa jasanya., namun banyak diantaranya yang lebih memilih untuk menggunakan payungnya sendiri atau hanya sekedar berteduh saja. Sementara sebagian lainnya memilih untuk menggunakan ojek payung, begitu pula dengan saya.

Seorang anak dengan rambut keriting dan membawa adik kecilnya menarik perhatian saya. ia membawa payung dan berlarian di tengah hujan. Kaki-kakinya dengan santainya berjalan di tengah genangan air seakan tidak peduli kotor ataupun tidak, ia tak ragu telapak kakinya bersentuhan dengan air yang tergenang, kakinya masih bergerak lincah seperti biasanya.

Anak kecil itu pun menyapa saya “kakak mau diantar kemana?” ucapnya sambil tersenyum sumringah. saya menjawab “saya mau ke indomaret samping stasiun,” ujar saya. :Baik kak. Ayo kak,” ajaknya. Akhirnya kami pun berjalan menuju tempat tujuan, sambil berjalan kami berbincang, “kamu sudah lama jadi ojek payung?” tanya saya, ia menjawab “baru beberapa bulan ini kak,” ucapnya sambil menggenggam tangan adik kecilnya. “Usia kamu berapa sekarang? dan kenapa kamu jadi ojek payung? kamu gak takut kamu sakit?” Tanya saya. Ia mengatakan “saya berumur 11 tahun kak. Bapak saya tukang gorengan saya mau bantu ayah saya supaya bisa punya uang sendiri, bisa beli hp, syukur-syukur bisa nambah untuk biaya sekolah, udah biasa kak jadi gak takut sakit.” ucapnya sambil tersenyum lirih.


Saya berdecak kagum saya begitu tersentuh dengan ia yang masih kecil tetapi sudah berani untuk mengambil resiko untuk membantu keluarganya. Lalu saya bertanya lagi “adiknya suka ikut ngojek payung juga? kasian adiknya masih kecil” lalu ia menjawab “biasanya sih suka gak ikut kak tapi tadi ia nangis jadi saya ajak” saya pun mengangguk lalu mengatakan “saya salut sama kamu masih kecil sudah mandiri. Tapi, jangan lupa untuk terus sekolah ya. Bahagiain bapak ibunya, supaya kamu bisa ngerubah nasib nasib orang tua kamu, uangnya jangan dipake aneh-aneh ya. Buat tambahan uang sekolah, jangan lupa beli sandal, kalo bisa jangan ngojek payung lagi jaga kesehatan ya” ucap saya. “iya kak” ujarnya. Setelah sampai tempat tujuan saya merogohkan uang untuk membayar jasanya, lalu saya meminta izin untuk memfotonya.

Berikut adalah hasil jepretannya :

img_68651

Saya terinspirasi oleh kisahnya, barangkali cerita ini bisa bermanfaat dan menjadi motivasi untuk kita semua. Sering kita mengeluh dengan hidup kita, sementara banyak orang diluar sana yang bermimpi untuk hidup seperti yang kita miliki. Kadang sekedar bisa memenuhi kebutuhan perut dan anak sekolah saja sudah cukup, bahkan ada pula untuk bisa makan saja sudah syukur. Anak usia 11 tahun ini sudah memiliki keinginan untuk mandiri dan sudah merasakan kerasnya kehidupan, sementara saat saya masih di usia yang sama saya hanya tahu main-main saja. Terkadang malu rasanya jika sudah diberi kenikmatan namun sering mengeluh, menyia-nyiakan uang, waktu, rasa malas yang begitu tinggi, dan sebagainya.

Saya teringat oleh sebuah hadist :

“Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” [HR. Tirmidzi].

Semoga dapat menjadi pengingat untuk tidak meremehkan nikmat Allah. Bersyukur dan semoga tidak kufur nikmat. Semoga dapat selalu meng-upgrade diri kita jadi lebih baik. Semoga bermanfaat.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *